Obrolan ringan di awal minggu ini bersama beberapa teman lama mengerucut ketika sampai pada topic: “jadi kamu sekarang lg kedanan motret?”, kenapa sey kamu motret? Tanya teman tepat di depan aku duduk “jangan bilang itu pelarian”, kata teman di samping kiri saya “jangan-jangan cuma side efek dari cita-cita yg tak tercapai?, seperti ketika patah hati atau gagal jadi sarjana? Kawan yang pertama bertanya menambahi rentetan pertanyaannya. “kalo hanya ngikutin trend, apa ga dihitung dulu untung dan ruginya”, sahabat saya yg dr pertama diam mulai ikut nimbrung dalam topic ini. Terus terang akhir-akhir ini saya baru mati gaya, ga cuma dalam mencari obyek memotret tapi hampir dlm seluruh sisi, satu arau dua minggu ini semua nyaris berjalan dalam suasana yg flat, datar tanpa tantangan. Mungkin saya butuh sesuatu yang fresh, sesuatu yang baru atau bahkan saya sampai dalam suatu titik batas? Entahlah, saya pun tak bias menjawabnya, “ingat leth, motret itu candu yang mahal” teman disamping kiri memulai perdebatannya lagi”, “jadi, KENAPA KAMU MEMOTRET?” kawanku yang pertama bertanya mulai tidak sabar menunggu jawabanku. Aku masih terdiam, entah bingung, entah takut bersuara, hingga aku dengan suatu kesadaran penuh menjawab: “AKU MOTRET, YA CUMA MOTRET AJA!!!!!”, Satu, dua, tiga, BAGAIMANA DENGAN ANDA?!
sugeng tanggap warso pak, mugi-mugi tansah diparingi kasihatan tansah istiqomah lan tawakkal gemati kalian kaluwargo sedoyo ...., dan kaulah PAHLAWAN SEJATIKU!!!! kaki merapi 10 juni 2008 - a pray for sahanku, from anak'e paling mbeling tur bagus dewe-
 Sejak saat itu Hatiku tak mampu Membayangkan rasa diantara kita Di pasir putih Kau genggam erat tanganku Menatap mentari yang tenggelam Semua berlalu dibalik khayalku Kenangan yang indah berdua denganmu Bersemi dan tetap akan bersemi Mewangi dan tetap akan mewangi Bersama dirimu, walau kini tlah jauh Kasih suatu saat di....,
sedih dey denger, liat, baca semua berita hari ini isinya cm emosi aja, mbok ya udh mending mikirin gmn ngakali hidup yg makin susah ini, cari duit susah, cari makan susah, cari jodoh jg susah (alah) lha wong bsk hidup makin sulit kok msh pada gontok-gontokan, mending cari duit yg banyak trs jalan-jalan motret, ya ga? hehehehe PISS aj dey.... Terjadi salah paham Kadang udah nggak pake otak Dikit-dikit pake emosi Langsung maen adu pisik Memangnya disini Texas Diabad sembilan belas Yang berisi koboi-koboi mabuk Liar dan hukum ditonjok Saling menendang, saling menerjang Adu kuasa, adu senjata dor ! Terjadi persaingan Susah dan semakin berat Yang udah nggak ketahanan Segala cara dihalalkan Di sini kan Indonesia Orangnya saling percaya Di sini bukan di Sicilia Yang tradisinya harus curiga Saling menipu, saling memeras Saling membajak Saling berkhianat Nggak ada preman Nggak ada mafia Nggak ada yang sok jagoan Angkat tanganmu Tatap mataku Rasakan getaran cinta dariku
Bayangkan? Bila kita bisa saling memaafkan Bayangkan ??.. Bila kita bisa saling berpelukan Tiada perang kelicikan Tangis kelaparan
Bayangkan? Bila kita bisa saling memaafkan
Bayangkan.. Bila kita bisa saling berpelukan Tiada perang kelicikan Tangis kelaparan
Getarkan manusiawi kami Mata dan mata hati kami Agar saling meniti
Esa maha suci Ampunkan dan tuntunlah kami Kita semua saling bersaudara Rindukan damai yg satu lagunya slank, yg kedua lagunya gigi
maaf, disini saya tidak ingin berpolimik panjang, saya lebih suka menghabiskan waktu saya untuk memikirkan bagaimana saya harus mencari tambahan pendapatan untuk mencukupi kebutuhan hidup yg makin membengkak, saya hanya ingin sedikit menarik mundur ke belakang, darimana awal semua berpangkal, dan kebetulan saya menemukan salah satu jawabannya, semoga dapat menjadi sedikit pencerahan Mohon HATI-HATI DENGAN USAHA ADU DOMBA...., diambil dari detik.com
Lama sudah tak kulihat Kau yang dulu ku mau Kadang ingat kadang tidak Bagaimana dirimu ? Kau cantik hari ini dan aku suka… Kau lain sekali dan aku suka… Entah ada angin apa Kau berdiri di sana Berhenti aliran darahku Kau menatap mataku Kau cantik hari ini dan aku suka Kau lain sekali dan aku suka Takkan ku biarkan lagi Menghilang dari kehidupanku
*a song by lobow
ya tepat dua tahun lalu ketika ini terjadi, ketika ribuan tangis pecah di kota ini, banyak cerita terjadi, banyak asa terpenggal, duka yg terhampar namun semua harus berlalu, semua harus kembali, bangkit dan berlari kembali in my case, beberapa tahun lalu, aku berkeinginan untuk mengakhiri "pencarian" di umur seperempat abad, ternyata Tuhan memang maha sayang, Dia memberikan "peringatan" untuk mengakhirinya ketika aku berumur 25 tahun lebih 4 bulan. aku juga pernah berharap untuk mengakhiri "pencarian" yg lain ketika aku berumur 27, namun mungkin Tuhan memang terlalu sayang denganku, Dia masih menyimpannya sebagai sebuah kuasaNYA anyway, sekedar refleksi, tanpa ada kejadian dua tahun lalu mungkin aku masih menjadi seperti inimustahil juga untuk pernah berdandan seperti iniatau merasanakan pengalaman katro macam iniyah, mungkin ini hanyalah suatu proses yang harus aku lewati, dan semua hasil akhirnyapun aku sendiri yang akan mencari dan menjalaninya satu yang tetap aku percayai, Tuhan tetap sayang kamu..., leth Kaki Merapi, 27 Mei 2008
 | Anggun | May 14, '08 11:22 PM for everyone |
 Pertama, gayamu Bagai seorang ratu Tak mudah dipelukku Tak mudah dikecup Apalagi untuk jadi milikku
Kedua, parasmu Cantik bagai bidadari surga Yang menebarkan wangi wangi Yang mendebarkan jantung
Ketiga, halus tutur katamu Selayaknya wanita bicara Aku tergila-gila kepadamu
Karna kau sangat anggun Aku selalu rindu kepadamu Karna kau sangat anggun Anggun balaslah cinta ini Jangan biarkan aku layu
Mawar melati Harum jiwamu Harusnya semua wanita Seperti dirimu Engkau mawar asuhan rembulan Menanti sang kumbang Yang kan datang
diambil dr mas once yg lagi nyani pagi ini
bilakah engkau mengerti
semua yg ada di hatiku ini
ku hanya ingin dekatmu
namun kau selalu menyadarkan aku
bukan engkau kau yg selalu bilang, selalu bilang
tuk tetap aku di sini
takkan berarti bahwa yg kau bilang, yg kau bilang
kita saling memiliki
dimana aku di sini
dimana aku di sini
dimana aku di sini pernahkah engkau sadari
bahwa kau selalu menyadarkan aku
bukan engkau
diambil dr ini
Saya baru iseng, ingin bermain dengan ilmu “Gothak Gathuk Mathuk” Iseng membuka album-album lama di MP kok aku menemukan satu kebetulan ya, Dimulai dari dua teman saya ini, om dan cik ini beberapa kali meminta saya menemani ke Merapi, tak sama setelah pendakian, mereka pun jadian dan pacaran sampai saat ini, sepertinya tinggal menunggu waktu yang tepat saja sey yang kedua, ketika dalam pendakian Merapi 3 tahun lalu om yg satu ini ikut serta, setahun kemudian diapun melepas masa lajangnya, ga percuma itu telp setiap saat berdering selama pendakian mengirim laporan ke sisi ibukota. ketiga, mbak yg ngakunya bukan pendaki ini nekat ikut serta ke merapi 2 bulan sebelum merapi meletus, dan sebulan yang lalupun dia berlabuh memukan pasangannya. Yang keempat, ibu guru yg satu ini ikut melihat live show letusan merapi pasca gempa jogja, paling suka titip salam buat aa maridjan katanya. dan saat ini diapun sudah sibuk mengasuh buah hatinya di bandung. Kelima Sang flamboyant yang sempat bikin ketar-ketir ketika gempa bumi itu terjadi, secara beberapa jam sebelumnya dia sms on the way nyusul ke merapi, namun tidak nampak juga batang hidungnya, dan setelah “perjalanan panjang” sang flamboyant akhirnya jatuh juga ke pelukan sang penghuni kaki gunung papandayan. Urutan ke enam, si mbakyu ini yang pernah tiba-tiba ngajak survey jalan-jalan ke lereng merapi tanpa ngasih tau tujuannya, dan ternyata dia mengajak keluarganya trekking ke merapi satu hari setelah pernikahannya Urutan ketujuh si kodok satu ini, yang paling demen ngajak malam-malam melihat lava di merapi, walaupun setiap acara nonton live show selalu berganti pasangan akhirnya si kodok sekarang berlabuh juga dalam pelukan sang putrid kaki gunung salak Ke delapan, adek tersayang ini, teman berbagi kisah setiap mendaki merapi, namun apa daya akhirnya dia menemukan sang arjuna, satu hari turun setelah mendaki merapi Sang ibu pendaki ini menduduki peringkat kesembilan, dulu sey ngakunya masih jomblo ketika rame-rame mendaki merapi 4 tahun yang lalu, sehingga membuat perjalanan mendaki bagai sebuah kompetisi antar pendaki pria, namun apa lacur sang penguasa gunung gede lebih memikat hatinya Yang kesepuluh, tentu sahabat saya sang pelukis ini, akhirnya melepaskan masa lajangnya selepas nadarnya untuk melukis bersama di puncak merapi. Urutan sebelas ditempati emak satu ini, yg dengan sukses mendapatkan kekasih hati yang rela mengantar jemput dan menunggui pendakian merapi setahun yang lalu, ga usah banyak komentar dey, saksinya banyak hehe
Keduabelas si abang yang ngakunya kapok naik merapi ini, namun tak lama setelahnya malah ngajak balek maen ke merapi bersama sang istri yang dinikahi tanpa memberi undangan hahahaha Yang ketigabelas si gebleg yang hamper selalu menemani setiap pendakian ini, akhirnya memecahkan mitos jomblo forevernya setelah pendakian merapi keduabelasnya Nomer keempat belas ditempati oleh kawan satu ini, pertama kali bertemu dalam pendakian merapi dengan anak-anak babi, dan akhirnya beliau baru menyusun undangan pernikahannya bulan ini hihihihi Mas kakak kelas ini menempati urutan kelima belas, salut untuk perjuangan trekking di merapi tanpa alas kaki dan sepanjang jalan menggandeng sang pasangannya :p Keenambelas sekaligus terakhir siapa lagi kl ga jatuh ke “juragan” yg satu ini, dulu sey waktu booking ngajak jalan bertiga empat hari ke jogja alasannya pengen motret mbah maridjan, “kapan lagi leth gw bs motret si embah, gw juga udah makin tua, apalgi si embah kan” gitu alasan rayuannya, namun apa yg terjadi, ternyata diam-diam dia minta untuk dipotret pre wed di merapi, setelah acara kedinginan dan bergandengan tangan nan romantis di cerahnya merapi sore itu :p Mungkin ini hanya satu kebetulan saja, bukannya saya mengajak untuk bermusrik ria di gunung merapi, jodoh itu masih menjadi rahasia Illahi kan? Mungkin gunung merapi hanya sebagai perantaranya saja namun semuanya serahkan saja pada yg Di atas sana. Buat temen-temen yg lain yang pernah ke merapi bareng, jangan takut jodoh kalian akan segera hadir, diusahakan secepatnya dikirim…, hahaha Dan satu lagi, jangan Tanya kenapa saya menulis ini, bukan iri bukan dengki, bukan juga curhat colongan, dari puluhan kali saya bermain ke merapi, saya tak pernah berharap lebih, hanya yakin “seseorang itu akan hadir, seperti aku mencintai merapi” Kaki merapi, di akhir bulan ke empat ketika musim tanam padi dimulai
Sudah lama saya tidak menonton film ke bioskop, bukannya ga pengen cuma karena di jogja bioskop 21 hanya satu dan itupun ada di lantai teratas di mall satu itu membuat saya jd malas naek turun tangga hanya untuk sekedar nonton film (ngeles dot com) Maka ketika semalam seorang teman mengajak untuk nonton film the tarik jabrik, sebenarnya setengah hati untuk mengikutinya, disamping udh PW di angkringan dengan topic diskusi tentang makin mahalnya harga minyak goreng dilanjut dengan masa depan Kristina setelah ditinggal suaminya disambung dengan lagu belah durennya jupe :p aku masuk bioskop ketika film utama udh mulai diputar, sedikit bingung mencari tempat duduk, melewati beberapa pasangan yg asyik bermesraaan, achhh dasar anak muda dan mulailah acara ngakak melihat adegan-adegan konyol sepanjang film yang menceritakan katroknya anak-anak sma di bandung itu, hahahaha kok jadi ingat masa-masa sepuluh tahun yang lalu ya, bedanyapun hanya sebelas duabelas dengan cacing cs, kl si cacing cs punya genk the tarik jabrik, akupun dulu sempat bangga dengan genk Themon Marai Mumeth, untuk gaya pun hamper mirip-mirip lah, jaket kulit press body ala mick jagger, kacamata belalang dipadu dengan motor katro tapi tetap pede abis hahahaha, malu juga sey inget kisah-kisah konyol yang dulu pernah dilakukan. Mulai dari kejepit pintu lift di mall galleria gara-gara meleng liat gadis cantik, dikejar bencong taman kota sampai tragedy mawar berduri coklat Cadbury nan legendaries itu satu yang menarik disimak dari film ini, jujur semangat buat “berkompetisi” kembali muncul setelah melihat film ini, jiwa pejuang yang sudah lama terkubur kembali bangkit untuk menuju “ladang pertempuran”, kalo sepuluh tahun lalu si competitor bermodal jampi-jampi beroda empat aja bablas dengan si butut beroda dua yang mampu membuat sang bidadari termehek-mehek, masa sekarang dah nyerah duluandengan si D5x hahahahahaha udah ach, ga penting banget dibahas lagi, yang penting semangat untuk tetap optimis itu kembali membara, namunnnnnnnnnn seiring berakhirnya film the tarik jabrik, dan menyalanya lampu-lampu di dalam bioskop akupun tanpa sengaja beradu pandang dengan pasangan disebelah kursiku, dan ternyataaaaa kok salah satu pemain utama episode tragedy mawar berduri coklat Cadbury ada disitu, bersama seorang lelaki….., maka meledaklah tawaku malam itu, suatu kebetulan yang nyaris sempurna, setengah tersenyum aku berujar “ Duren-duren, Legi legi, Mbiyen mbiyen, Saiki saiki” :p -jogja di malam selasa, ditemani sepiring nasi gudeg batas kota-
beberapa tahun lalu, saya berkesempatan belajar motret dengan mbak inidiakhir perjalanan saya terbengong-bengong ketika ditunjukan hasil motretnya, saya sudah puluhan kali melewati tempat itu, tapi waktu dikasih lihat hasil fotonya, sayapun sampai bertanya: "ini dimana mbak?" satu jawaban darinya yang akan selalu ku ingat ketika sedang memegang kamera: "aku memotret dengan hati fan" dan beberapa hari yll, aku menemukan suatu tulisan yg menarik, menjawab pertanyaanku dulu, diambil dari: http://afriadihikmal.multiply.com/journal/item/11/Fotografi_Sebuah_Buku_PutihFotografi Sebuah Buku PutihFotografi adalah melukis dengan cahaya. Demikian yang didapat dari hasil jeprat-jepret saat itu lalu belakangan mendapatkan buku teknik dasar fotografi dari seorang teman yang isi awalnya, fotografi adalah melukis dengan cahaya.
Ya aku nggak pernah mengenyam pendidikan fotografi secara lembaga tapi fotografi ditularkan begitu saja melalui mata kepada batin yang menghasilkan kenikmatan luar biasa. Awal bersentuhan dengan fotografi adalah saat yang sama dengan jatuh cinta pada pandangan pertama. Bersentuhan dengan fotografi bagai menggetarkan sendi2 pada tubuh yang membuat semua naluri bergerak untuk selalu terus memotret.
Langit biru atau sunset orange adalah fotografi saat itu. Dimana dominasi warna membuat gelisah pikiran untuk mencari lagi dimensi biru dan orange. Puluhan rol film berisi biru dan orange langit lambat laun menjadi warna pakaian wanita yang juga lambat laun tak memerlukan warna tersebut.
Beberapa mata terbelalak menatapi milimeter demi milimeter cahaya yang terekam pada secarik foto, decakkan kagum pada warna langit juga mulusnya kulit. Sampai akhirnya aku menemukan secarik koran ditempat pelukis pinggir kali daerah pasar baru, bergambar penderitaan manusia pada negara lain. Aku tertegun menatapi gambar tersebut, tak menyangka ada hal seperti itu didunia. Selama ini aku membaca beberapa tulisan namun rasanya percaya tak percaya sampai akhirnya kutemukan koran tersebut. Meski secara teknis foto tersebut tak memiliki langit yang biru atau orange, meski secara estetika foto tersebut jauh dari beauty dan terang tapi foto tersebut amat menggetarkan siapapun yang melihatnya. Pelukis pinggir kali itu bilang, itulah fotografi tak pernah berdusta, dia bikin kita tau.
Dua belas tahun berselang, pelukis pinggir kali itu entah kemana, sobekkan koran itu entah jadi apa. Tapi saat itu menjadi momen yang berharga, aku merasa menemukan kunci, membuka mata, akal dan jiwa.
Kini fotografi berkembang bak jamur dimusim hujan (istilah lama yang bosen banget bacanya). Dari anak TK sampai orang tua, dari anak muda sampai ibu rumah tangga menjadi fotografer dalam arti menjepretkan kamera (entah compact atau DSLR). Ibu2 akan menganalisa hasilnya,”..kurang terang..” Anak2 muda mendiskusikan jepretannya,”..langitnya nggak biru, kulitnya nggak mulus..” Produsen alat akan mengecap,”..cuma fitur kami yang canggih.” Maka berlombalah menciptakan foto yang ASTRADA (asal terang gambar ada), bersainglah mewarnai langit, bermimpilah memiliki fitur2 canggih pada alatnya.
Fotografi adalah melukis dengan cahaya, menyampaikan kebenaran lewat tutur yang bersahaja. Ada yang buyar oleh kicauan pembuat alat yang terkadang banyak menyesatkan. Seolah fotogafi terbaik diciptakan oleh fitur2, padahal angle dan momen dalam sebuah fotografi tak bisa diciptakan oleh fitur secanggih apapun kecuali fitur yang diberikan Tuhan yaitu mata, akal dan jari. Nilai2 mulai pudar oleh banyaknya asumsi hilir mudik yang katanya si katanya, fotografi itu adalah kecantikan dan keindahan. Lalu beberapa pikiran segar mendamba jelajahi fotografi yang terpampang dilampu merah atau lapak2, berbekal kamera besar dan tongkrongan yang terlihat gagah.
Rasanya esensi dan nilai edukasi dalam fotografipun mulai sirna, menjalar dari satu kepada yang lain tanpa sadar menciptakan keterbelakangan. Membuat apresiasi fotografi kebanyakan menjadi hampir sama yaitu langit biru atau orange, mulus atau montok, cantik atau astrada. Berada dibelakang kaum yang masyarakatnya tak pernah tergiur dengan mudah oleh asumsi dan persepsi.
Fotografi sebuah cermin. PS: Dedicated to urusai.
 Bagi masyara kat lereng Merapi, apapun yang terjadi dengan gunung ini adalah berkah. Diamnya berkah, gejolaknya pun berkah, demikian pula dengan abu, pasir, batu hingga rumput liar yang tumbuh. Dan dua tahun lalu, Merapi kembali memberi peringatan. Seperti seorang bijak yang menyadarkan manusia atas kesalahan dan dosa. Dan lagi-lagi, bagi masyarakat lereng Merapi, peringatan ini adalah tanda cinta. Sementara kita yang jauh dari sana, sering memandangnya sebagai bencana. Televisi, radio, surat kabar berlomba memberitakan peristiwa itu dalam aroma kekhawatiran, ketakutan pada bencana. Seolah-olah akan terjadi kiamat kecil disana. Tapi tak ada yang mengusik bagi masyarakat Merapi. Semua ini adalah tanda alam. Siklus yang tidak bisa ditolak, dimajukan, diundurkan, diskenariokan. Semua sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa, dan manusia berada dalam posisi untuk menjalankan, menerima dan mengambil hikmah. Karena itulah, mereka yang memiliki ternak tetap merumput seperti biasa. Penambang pasir dan pemecah batu beraktifitas tanpa terganggu. Pedagang menjajakan makanan dan anak-anak bersekolah dengan riang. Tak ada ketakutan, yang ada kepasrahan untuk melakoni peran masing-masing. Merapi adalah sahabat. Alam menjadi guru bijak dan mengajarkan pada manusia catatan-catatan perubahan sepanjang masa. Ketika kita tidak ramah dengan alam, dia pun akan mengisyarakatkan. Masyarakat lereng merapi sudah menyadari itu, karena jiwa mereka telah menyatu dengan semilir angina kaki gunung. Karena itulah kita harus belajar dari mereka, untuk menjadikan Merapi sebagai sahabat dan guru tempat belajar tentang kearifan alam. Dan pada akhirnya menyadari keagungan Tuhan yang hakiki.
Alam Membina Kepribadian Kaki Merapi, 20 April 2008 diambil dari: Kabare jogja januari 2007
fat, dari riboean dara di doenia
koemoeliakan engkau sebagai dewikoe
koepoedja dengan njanjian moelia:
kembang dan setanggi doepa hatikoe
O, fatma jang Menjinarkan tjahja,
terangilah selaloe djalan djiwakoe,
soepaja sampai dibahagia raja,
dalam swarganya tjinta - kasihmoe
-Soerat pribadi Soekarno, 11 September 1941-
saya bukan seorang pengagum Sukarno, bukan pula seorang maniak suatu aliran politik. tapi ketika siang ini saya melangkah kedalam ruang pameran itu, saya menangkap satu sisi yang lain tentang soekarno, yah ternyata dibalik julukan sebagai penyambung lidah rakyat dan orator ulung pada jamannya, ada satu sisi yang menopang dan mungkin yang membuat dia menjadi seorang tokoh besar
ya..., fatmawati, saya mengenal beliau dari buku-buku sejarah yang saya baca di bangku sekolah dulu sedikit cuplikan kisah pribadinya saya dapatkan dari ibu bos saya di jakarta yang pernah menjadi sekretaris pribadi ibu fat
dan hari ini, ketika saya melihat pameran foto-foto tentang dia, mulai dari jaman di bengkulu penjajahan jepang, revolusi di jogja dan ketika menjadi seorang first lady indonesia, saya baru paham bahwa memang dibalik seorang tokoh besar pasti ada pula wanita besar yang menopangnya.
sekilas gambaran yg aku tangkap, fatmawati, seorang wanita berhati besar yg menolak dinikahi ketika sukarno masih beristri inggit, iklas mendampingi ketika soekarno berjuang dalam masa kemerdekaan dan dia pula yg berjiwa besar ketika soekarno mulai menggilai banyak wanita.
dari pergelaran foto, film dokumenter dan benda kenangan FATMAWATI SOEKARNOPUTRI Jogja Gallery, 15 - 21 April 2008
Teduhkanlah hatiku
Lelahkanlah jiwaku
Duhai engkau cahaya mataku
Yang menuntun jalanku
Yang memandu hidupku
Yang meredupkan pedih penatku
Tersenyumlah ..
Bahagialah ..
Sungguh engkau
Yang melumpuhkan hatiku
Yang melipurkan rinduku
Senyuman itu menyenangkan aku
a song by Padi - Save My Soul Album
Attachment: Padi - Cahaya Mata.mp3
a song by ANDRA & THE BACKBONE nendang banget dey...., Seribu wanita Yang pernah singgah
Dan tak ada hati
Kau pun datang Ada yang berbeda Mengapa begini Apa yang terjadi Tak pernah sebelumnya Tak pernah ku duga
Ku akui ku main hati (Ku main hati, ku main hati) Ku tak bisa ‘tuk memungkiri Ku main hati…
Bersamamu ku rasakan Yang tak pernah kurasakan sebelumnya Pencarianku berakhir Kar’na ku t’lah temukan dirimu
Ku akui ku main hati Ku tak bisa ‘tuk memungkiri (Ku main hati, ku main hati)
Ku main hati… Ku main hati Ku main hati Ku main hati, ku main hati
07.30 waktunya beranjak mandi setelah gosip pagi 3 episode
08.00 semua gear dah siap, sepda putih, kaos merah, kacamata item, helm ijo, tp celana kurang matching ney
08.09 sms dl donk, laporan gw ngegoes pagi ini
08.10 start lewat jalan samping rumah
08.13 lewat ex penambangan pasir, wow merapi cerah sekali pagi ini, merbabu menyembul di baliknya biru langit, hijau sawah dan hitam tanah..., seger dey
08.15 jembatan kecil yg longsor kena banjir
08.17 tanjakan pertama depan RM samudra jaya, mula dey
08.24 trek landai sebelum jalan kaliurang, kenapa sey td ga naek motor aja?
08.27 turun dikit nyebrang jakal
08.31 masuk desa sambi
08.34 melipir tebing Ledok sambi, kanan sawah kiri kali kecil
08.42 jembatan kali kuning, berhenti di tengahnya wah airnya jernih, nyebur ach.....
08.58 mulai ngegoes lagi, badan seger basah-basah abis mandi di kali
09.02 langsung bayar lunas tanjakan tebing kali kuning, ampunnnnnnnnnnnnnnn
09.05 nyerah dey setengah tanjakan dorong sepeda
09.10 makian panjang pendek, tuh tanjakan....
09.14 masuk dusun pentingsari adem, secara penuh pohon-pohon gede mak nyesssssssss
09.20 turunan kali pawon , ti ati dey
09.22 tanjakan lagi, kali ini harus bisa!!!
09.25 hore bisa sampe atas ga pake acara ndorong sepeda dey
09.27 turunan jalan kaliadem, cihuyyyyyyyyyyyyyyyy
09.34 belok kanan masuk kebon salak, jalur masih landai offroad
09.37 jalur turun offroad abis di tengah sawah, ancurrrrr
09.42 kebo di depan, jalur menurun daripada cipokan mending banting kiri, nyungsep dey masuk sawah :(
09.45 cengar cengir sambil dikasih teh anget simbok'e, biaya ganti rugi si kebo yg mentang-mentang badan gede ga mau minggir di tengah jalan (abis ini jg jalan sapa kata si kebo)
09.47 jalan lagi, masih menurun offroad
09. 58 nyampe dey di kantor Desaku, langsung ke dapur, 4 gelas sekali teguk hehehe
10.05 kok kepala pusing ya? efek kebo tadi ato gara2 kurang sarapan?
in fact: total waktu 2 jam kurang 10 menit perjalanan Gondang Legi - Desaku dari waktu normal 30 menit pake motor (bonus mandi di kali kuning :p)
total papasan dengan 8 sepeda motor, satu mobil dan 16 simbok-simbok (sayang ga ketemu dedek manis berjilbab)
dan sore ini, ada yg berminat tarik sepeda saya sampai depan rumah? (gempor dot com) hehehe
banyak yg bilang itu hanya sia-sia, terlalu banyak perbedaan katanya...,
ada yg bilang itu tantangan, dari perbedaan itu pasti ada kesamaannya...,
dan akupun tak tau kemana akhir perjalanan ini...,
-Stasiun Tugu di shubuh nan cerah 110408-
tempatku mungkin bukan disini, tapi sepotong hati ini aku pastikan bakal tertinggal disini...., namun entah kapan, aku menjemput kembali potongan itu menjadikan dua hati dalam satu janji..., jakarta, 10 hari pertama di bulan april *kata-kata sebagian nyulik dari bukunya ini*dicatetin ama si Ndut ini*enaknya dikasih buat sapa ya? ada usul? hehehehe
..., ada dikit pemandangan yang menarik perhatian gw saat pulang kantor, karyawati-karyawati cakep sambil nunggu angkutan di sekitar daerah sudirman-thamrin pada rame-rame makan otak-otak di pinggir jalan. ada juga yg sibuk melahap siomay, cuek aja kelihatannya, kontras banget dengan penampilan. Ini menarik, secara pemandangan kaya gini ga pernah gw dapetin di kampung gw. yang cewek-cewek kantoran kebanyakan agak gengsian. cewek-cewek yang ga pernah menyadari bahwa cowok pada umumnya lebih demen hal-hal yang natural. ga pernah menyadari kalo gengsian itu penyebab utama mati jodoh...,
diambil dari buku "jakarta underkompor" by archam kendari
| |