Saya baru iseng, ingin bermain dengan ilmu “Gothak Gathuk Mathuk”
Iseng membuka album-album lama di MP kok aku menemukan satu kebetulan ya,
Dimulai dari dua teman saya ini, om dan cik ini beberapa kali meminta saya menemani ke Merapi, tak sama setelah pendakian, mereka pun jadian dan pacaran sampai saat ini, sepertinya tinggal menunggu waktu yang tepat saja sey
yang kedua, ketika dalam pendakian Merapi 3 tahun lalu om yg satu ini ikut serta, setahun kemudian diapun melepas masa lajangnya, ga percuma itu telp setiap saat berdering selama pendakian mengirim laporan ke sisi ibukota.
ketiga, mbak yg ngakunya bukan pendaki ini nekat ikut serta ke merapi 2 bulan sebelum merapi meletus, dan sebulan yang lalupun dia berlabuh memukan pasangannya.
Yang keempat, ibu guru yg satu ini ikut melihat live show letusan merapi pasca gempa jogja, paling suka titip salam buat aa maridjan katanya. dan saat ini diapun sudah sibuk mengasuh buah hatinya di bandung.
Kelima Sang flamboyant yang sempat bikin ketar-ketir ketika gempa bumi itu terjadi, secara beberapa jam sebelumnya dia sms on the way nyusul ke merapi, namun tidak nampak juga batang hidungnya, dan setelah “perjalanan panjang” sang flamboyant akhirnya jatuh juga ke pelukan sang penghuni kaki gunung papandayan.
Urutan ke enam, si mbakyu ini yang pernah tiba-tiba ngajak survey jalan-jalan ke lereng merapi tanpa ngasih tau tujuannya, dan ternyata dia mengajak keluarganya trekking ke merapi satu hari setelah pernikahannya
Urutan ketujuh si kodok satu ini, yang paling demen ngajak malam-malam melihat lava di merapi, walaupun setiap acara nonton live show selalu berganti pasangan akhirnya si kodok sekarang berlabuh juga dalam pelukan sang putrid kaki gunung salak
Ke delapan, adek tersayang ini, teman berbagi kisah setiap mendaki merapi, namun apa daya akhirnya dia menemukan sang arjuna, satu hari turun setelah mendaki merapi
Sang ibu pendaki ini menduduki peringkat kesembilan, dulu sey ngakunya masih jomblo ketika rame-rame mendaki merapi 4 tahun yang lalu, sehingga membuat perjalanan mendaki bagai sebuah kompetisi antar pendaki pria, namun apa lacur sang penguasa gunung gede lebih memikat hatinya
Yang kesepuluh, tentu sahabat saya sang pelukis ini, akhirnya melepaskan masa lajangnya selepas nadarnya untuk melukis bersama di puncak merapi.
Urutan sebelas ditempati emak satu ini, yg dengan sukses mendapatkan kekasih hati yang rela mengantar jemput dan menunggui pendakian merapi setahun yang lalu, ga usah banyak komentar dey, saksinya banyak hehe
Keduabelas si abang yang ngakunya kapok naik merapi ini, namun tak lama setelahnya malah ngajak balek maen ke merapi bersama sang istri yang dinikahi tanpa memberi undangan hahahaha
Yang ketigabelas si gebleg yang hamper selalu menemani setiap pendakian ini, akhirnya memecahkan mitos jomblo forevernya setelah pendakian merapi keduabelasnya
Nomer keempat belas ditempati oleh kawan satu ini, pertama kali bertemu dalam pendakian merapi dengan anak-anak babi, dan akhirnya beliau baru menyusun undangan pernikahannya bulan ini hihihihi
Mas kakak kelas ini menempati urutan kelima belas, salut untuk perjuangan trekking di merapi tanpa alas kaki dan sepanjang jalan menggandeng sang pasangannya :p
Keenambelas sekaligus terakhir siapa lagi kl ga jatuh ke “juragan” yg satu ini, dulu sey waktu booking ngajak jalan bertiga empat hari ke jogja alasannya pengen motret mbah maridjan, “kapan lagi leth gw bs motret si embah, gw juga udah makin tua, apalgi si embah kan” gitu alasan rayuannya, namun apa yg terjadi, ternyata diam-diam dia minta untuk dipotret pre wed di merapi, setelah acara kedinginan dan bergandengan tangan nan romantis di cerahnya merapi sore itu :p
Mungkin ini hanya satu kebetulan saja, bukannya saya mengajak untuk bermusrik ria di gunung merapi, jodoh itu masih menjadi rahasia Illahi kan? Mungkin gunung merapi hanya sebagai perantaranya saja namun semuanya serahkan saja pada yg Di atas sana.
Buat temen-temen yg lain yang pernah ke merapi bareng, jangan takut jodoh kalian akan segera hadir, diusahakan secepatnya dikirim…, hahaha
Dan satu lagi, jangan Tanya kenapa saya menulis ini, bukan iri bukan dengki, bukan juga curhat colongan, dari puluhan kali saya bermain ke merapi, saya tak pernah berharap lebih, hanya yakin “seseorang itu akan hadir, seperti aku mencintai merapi”
Kaki merapi, di akhir bulan ke empat ketika musim tanam padi dimulai